Pengagum Rahasia

pengagum rahasia

Saat gue masih duduk di kelas 6 SD, gue adalah orang yang sok paling ngerti tentang cinta di antara 2 sahabat gue, Reyhan dan Prama. Reyhan orangnya pinter, dan Prama salah satu orang yang paling kaya di antara kami. Mereka berdua sama-sama rendah hati. Sedangkan gue beloon, sombong pula. Satu-satunya yang gua punya cuma keren doang. Itu juga kata nyokap. Mungkin sewaktu gue dalem kandungan, yang ngidam bukan nyokap, tapi tetangga gue.

Kita bertiga selalu ngobrolin tentang cewek, hampir semua cewek di sekolah dijadikan topik pembicaraan termasuk kepala sekolah. Kebetulan kepala sekolah kita cewek. Nyaris aja gue  suka sama beliau. Untung Reyhan menyadarkan gue kalo beliau udah punya suami.

Walaupun gue ngerasa sok paling ngerti tentang cinta di hadapan temen-temen gue, dan sering kali mereka nyamperin gue buat nanyain solusi gimana caranya dapetin cewek, namun, sebenernya hati kecil gue menolak. Gue ga tau cinta itu seperti apa, gue ga tau harus bagaimana dengan cinta, dan bahkan gue ga tau bagaimana cinta itu datang.

Di jam istirahat, ketika gue lagi duduk-duduk sambil ngupil di depan pintu kelas, dari kejauhan gue melihat Reyhan lari ke arah gue dengan kecepatan tinggi. Kedua tangannya lurus ke belakang layaknya seorang ninja di film Naruto, dan mulutnya agak sedikit nyengir. Gue sempet mengira dia mau ikutan duduk-duduk sambil ngupil. Tapi ga mungkin orang sepinter dia bertindak bodoh kayak gue.

Reyhan memang pinter, tapi dia ga sepinter seperti apa yang gue kira dalam urusan percintaan. Dia mendadak blo’on ketika dia lagi jatuh cinta. Dan bahkan dia sampe lupa caranya bertegur sapa ketika dia papasan sama Ries- cewek yang dia suka.

“Kenapa ya, Den..” Reyhan memberikan pertanyaan sambil menggenggam tangannya sendiri. “Gue ga pernah berani nyapa Ries tiap kali papasan sama dia.”

“Menurut lu kenapa?” Gue membalikan pertanyaan yang Reyhan berikan.

“Kalo gue tau, gue ga bakalan nanya lo, Kuya!”

“Ya terus?”

“Udah lah, besok gue bakal nyapa Ries duluan.” Reyhan memberikan janji buat gue, dan sebenernya ini bukan janji yang pertama kalinya Reyhan kasih. Mungkin malaikat juga udah males nyatet tiap Reyhan ngucapin janji.

Padahal, gue tau banget Reyhan, dia ga pernah ingkar janji. Dia selalu menepati omongan yang telah dia ucapkan.          Tapi semua berubah ketika Reyhan bertemu dengan Ries. Reyhan mulai sering melupakan janji-janjinya yang sudah terlanjur gue dengar.

Dari situ gue berpikir, betapa pinternya Reyhan sampai-sampai bertegur-sapa dengan orang yang dikaguminya pun tidak bisa. Dan tanpa gue sadari, kepintaran yang dilakukan Reyhan, sama seperti kebodohan gue selama ini yang ga pernah bisa memberanikan diri buat nyapa orang yang gue kagumi. Jangankan menyapanya, memandangnya pun gue takut. Dan apa yang gue dan Reyhan alami, dialami juga oleh Pengagum Rahasia. (continue)

Advertisements

4 thoughts on “Pengagum Rahasia

  1. “kebodohan gue selama ini yang ga pernah bisa memberanikan diri buat nyapa orang yang gue kagumi. Jangankan menyapanya, memandangnya pun gue takut.” pengen ngakak rasanya, tapi kalau ketawa pernah ngerasain berarti :’ 😐 #nasibpengagumrahasia.
    Semangat teruss ~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s