Melihatmu dalam Senja

train

Malam ini terasa lebih dingin dari malam-malam seperti biasanya. Rintikan hujan terdengar  lebih merdu. Entah sejak kapan hujan latihan olah vocal hingga suaranya terdengar merdu, yang jelas aku sih yes.

 

Kamar begitu gelap. Lampu kamar sudah mati sejak 30 menit lalu. Tidak ada cahaya sama sekali di kamar, kecuali cahaya dari layar hanpdhone. Sesekali layar itu redup, tapi semangat scrolling di jam 2 pagi membuat cahaya dari layar handphone itu bertahan lama.

 

Entah untuk keberapa kalinya, malam ini gue melihat lagi masa lalu dari sepotong foto-foto yang tersimpan. Kadang membuat bibir tersenyum tipis seperti keadaan dompet di akhir bulan, kadang juga merenung dan larut dalam heningnya malam. Namun gue yakin, apa yang gue lakukan malam ini, pernah dilakukan juga oleh kalian.

 

Bro, di mana? Like sm komen ig gue dong biar rame..

P

P

P

Chat Danil membangunkan gue dari ketiduran di pagi hari tadi. Gue ga bales. Benerin bantal. Tarik selimut. Lanjut tidur lagi dan berharap bisa melanjutkan mimpi yang telah lama gue inginkan.

 

Udah lama gue menginginkan mimpi ini. Mimpi yang bisa membuat gue sedikit melepas kerinduan. Karena cuma ada satu cara untuk bisa bertemu dan melihatnya kembali, yaitu hanya lewat mimpi.

 

Kalau aja mimpi bisa selalu seperti apa yang kita inginkan, mungkin gue akan selalu meminta untuk bermimpi yang sama seperti malam kemarin. Sayang, kenyataannya enggak seperti itu, gue lebih banyak mimpi mati lampu. Gelap. Tiba-tiba udah kebangun aja gara-gara nyokap teriak pake suara 2 buat nyuruh solat.

 

Sore ini gue ketemu sama tim basket di daerah Depok, dan ada Danil yang minta di-like dan dikomen IG-nya pagi tadi.

“Lu ke sini naek apaan?”, Danil nanya gue seakan ingin membahas kenapa gue ga bales chat dia.

“Gue ngantuk, makanya gue ga bales. Lagian lu ganggu aja orang lagi mimpi enak.” saut gue biar ga panjang urusan.

“LU MIMPI BA—“

 

“KERINGGGG!”, potong gue menyambar.

 

“—sah..”

Daniel otaknya emang ngeres, makanya kalo ngomong sama dia harus hati-hati biar aman. Kalo perlu ngmongnya sambil pake helm.

 

Kumpul sama tim basket pun selesai, gue memilih untuk pulang ke rumah naik kereta. Karena gue lebih suka jalan kaki, gue menolak ajakan pelatih gue yang ngajak bareng ke stasiun kereta naik mobil. Entah kenapa, langkah kaki di senja ini begitu nyaman dan selalu ingin terus berjalan tanpa berhenti.

 

Semakin dekat dengan stasiun kereta, semakin terlintas di kepala tentang mimpi gue bertemu dengannya malam tadi. Hal itu membuat langkah gue semakin pendek dan menjadi lebih pelan. Langkah kaki terus maju ke depan dan pandangan mata selalu lurus tanpa sedikit pun melirik kanan atau pun kiri, hingga akhirnya gue melihat wajah yang sudah lama ga gue liat.

see

Seakan waktu berhenti sejenak, senja di depan stasiun  kereta itu menjadi saksi bisu bertemunya kembali gue dengannya. Dengan dia yang pernah mewarnai hari-hari gue dengan tawa, bahkan tangis. Tak ada kata sedikit pun yang keluar, karena pandangan mata gue terus memandang lurus ke depan. Walau pun rasa rindu selalu memaksa gue untuk berpaling ke belakang melihatnya.

 

Ga sedikit pun gue ingin menyerah untuk melihatnya yang sudah ada di belakang gue, tapi setidaknya gue melirik sedikit dengan kepala tetap memandang ke depan, dia menolehkan kepalanya dan melihat kehadiran gue yang saat itu menggunakan topi di keramaian orang berlalu-lalang.

 

Wajah itu tidak berubah sedikit pun, sama sekali tidak ada. Mungkin yang berubah hanyalah keadaan dan waktu yang membuat kami berada di situasi yang berbeda.

 

Suara informasi keberangkatan kereta yang begitu nyaring perlahan menjadi samar. Tiang besar di samping tempat duduk gue pakai untuk bersandar. Terlintas di pikiran tentang semua kejadian di hari ini.

 

Ada 3 hal yang gue sadari hari ini. Pertama,  mimpi yang selama ini gue impikan menjadi mimpi di dunia nyata. Gue bertemu dengannya meskipun hanya papasan di perjalanan menuju pulang.

 

Kedua, menolak ajakan pelatih untuk pulang bareng naik mobil menjadi keputusan yang tepat buat gue. Karena bisa jadi gue sampai stasiun lebih awal jika menerima tawaran itu, dan menghilangkan kesempatan melihat wajah yang lama tidak bisa gue liat secara langsung.

 

Dan ketiga,  chat Danil menyadarkan gue supaya gue tidak terlalu larut dalam mimpi, karena mimpi bisa jadi kenyataan dengan keinginan dan usaha yang sebanding. Jangan pernah takut untuk bermimpi, dan untuk menjadikannya kenyataan langkah pertama adalah bangun.

 

Gue yakin, semua yang terjadi di dunia ini punya arti yang akan kita sadari di kemudian hari.

Advertisements