Pengagum Rahasia #PART2

pengagum rahasia (1)

NDEEEN BANGUUUN!!!

Terdengar suara dua nyokap dari sela-sela ventilasi pintu kamar. Rumah gue emang selalu rame setiap menjelang subuh, nyokap selalu memberikan suara terbaiknya buat ngebangunin seisi rumah. Ga ada yang berani buat tetep asik-asikan tidur ketika nyokap udah teriak, bahkan saking pada takutnya, TV yang mati aja langsung nyala ketika nyokap udah teriak.

 

Pagi ini gue lebih dulu bangun sebelum teriakan nyokap berkumandang. Ya biasa, lagi-lagi hari ini gue ga bisa tidur seperti anak-anak SMA lainnya, mereka biasanya udah bisa tidur nyenyak sebelum jam sebelas malem. Kadang gue ngerasa pengen seperti mereka pada umumnya, bisa menikmati tidur di atas kasur empuknya, atau bahkan seperti sebagian dari mereka yang bisa menikmati mimpi basahnya. MIMPI LAGI MANDI YA BTW! Ngeres. Sampe saat ini gue belum tau apa bedanya gue dengan temen-temen gue lainnya.

 

Kedua bola mata gue seakan terhipnotis layar handphone, sementara jempol seperti diolesi lem yang melekat sangat kuat sehingga selalu menempel untuk scrolling medsos sampe mimisan. Semua social media layaknya seperti jalur Puncak Bogor di setiap week-end, selalu buka-tutup. Entah udah keberapa kalinya gue bolak-balik buka-tutup social media yang berbeda, dan akhirnya gue memilih untuk scrolling timeline Instagram.

 

Postingan pertama di timeline Instagram bikin mood gue meningkat drastis buat scrolling, postingan pertama itu adalah foto Pevita lagi senyum manja dengan kaca mata hitam yang dinaikan seakan berubah fungsi menjadi bandana. Tanpa pikir panjang gue langsung nge-like postingannya, biar agak unyu gue tap dua kali di hidung mancungnya. Setelah gue tap di hidungnya, gue berdoa semoga Pevita ga bersin.

 

Keasikan scrolling Instagram bikin ngantuk yang gue rasa hilang, ketimbang tidur, gue lebih pilih buat tiduran ngadep ke langit-langit sambil fokus ke layar handphone yang gue pegang ke atas sejajar dengan kepala. Ketika gue asik scrolling, handphone gue jatuh kena muka. Untungnya muka gue ngga benyek. Entah apakah ini rencana Tuhan, layar handphone gue jatuh teoat di hidung gue dan seketika jadi nge-like postingan di eksplor instagram. Dan itu adalah foto seorang wanita menggunakan batik SMA-nya.

 

Dia cantik, lucu, anggun, dan yang paling penting (sepertinya) jalannya ngga zig-zag. Gue ga pernah percaya sama kata jatuh cinta pada pandangan pertama, tapi kali ini gue percaya. Gue mulai terbayang-bayang wanita itu, tapi semakin gue pikirkan, semakin menyadarkan gue kalo dia ga mungkin bisa gue dapetin.

 

Dia punya pacar.

 

Ga ada harapan untuk dapetin wanita itu. Satu-satunya harapan yang tersisa adalah hubungan dia sama pacarnya lagi sedang tidak sehat. Setelah dipikir-pikir percuma juga. Gue malah teringat ketika SD dulu. Lagi-lagi apa yang gue alami adalah apa yang dialami oleh Pengagum Rahasia. Hanya bisa melihat indahnya tanpa bisa memiliki raganya.

Pengagum Rahasia

pengagum rahasia

Saat gue masih duduk di kelas 6 SD, gue adalah orang yang sok paling ngerti tentang cinta di antara 2 sahabat gue, Reyhan dan Prama. Reyhan orangnya pinter, dan Prama salah satu orang yang paling kaya di antara kami. Mereka berdua sama-sama rendah hati. Sedangkan gue beloon, sombong pula. Satu-satunya yang gua punya cuma keren doang. Itu juga kata nyokap. Mungkin sewaktu gue dalem kandungan, yang ngidam bukan nyokap, tapi tetangga gue.

Kita bertiga selalu ngobrolin tentang cewek, hampir semua cewek di sekolah dijadikan topik pembicaraan termasuk kepala sekolah. Kebetulan kepala sekolah kita cewek. Nyaris aja gue  suka sama beliau. Untung Reyhan menyadarkan gue kalo beliau udah punya suami.

Walaupun gue ngerasa sok paling ngerti tentang cinta di hadapan temen-temen gue, dan sering kali mereka nyamperin gue buat nanyain solusi gimana caranya dapetin cewek, namun, sebenernya hati kecil gue menolak. Gue ga tau cinta itu seperti apa, gue ga tau harus bagaimana dengan cinta, dan bahkan gue ga tau bagaimana cinta itu datang.

Di jam istirahat, ketika gue lagi duduk-duduk sambil ngupil di depan pintu kelas, dari kejauhan gue melihat Reyhan lari ke arah gue dengan kecepatan tinggi. Kedua tangannya lurus ke belakang layaknya seorang ninja di film Naruto, dan mulutnya agak sedikit nyengir. Gue sempet mengira dia mau ikutan duduk-duduk sambil ngupil. Tapi ga mungkin orang sepinter dia bertindak bodoh kayak gue.

Reyhan memang pinter, tapi dia ga sepinter seperti apa yang gue kira dalam urusan percintaan. Dia mendadak blo’on ketika dia lagi jatuh cinta. Dan bahkan dia sampe lupa caranya bertegur sapa ketika dia papasan sama Ries- cewek yang dia suka.

“Kenapa ya, Den..” Reyhan memberikan pertanyaan sambil menggenggam tangannya sendiri. “Gue ga pernah berani nyapa Ries tiap kali papasan sama dia.”

“Menurut lu kenapa?” Gue membalikan pertanyaan yang Reyhan berikan.

“Kalo gue tau, gue ga bakalan nanya lo, Kuya!”

“Ya terus?”

“Udah lah, besok gue bakal nyapa Ries duluan.” Reyhan memberikan janji buat gue, dan sebenernya ini bukan janji yang pertama kalinya Reyhan kasih. Mungkin malaikat juga udah males nyatet tiap Reyhan ngucapin janji.

Padahal, gue tau banget Reyhan, dia ga pernah ingkar janji. Dia selalu menepati omongan yang telah dia ucapkan.          Tapi semua berubah ketika Reyhan bertemu dengan Ries. Reyhan mulai sering melupakan janji-janjinya yang sudah terlanjur gue dengar.

Dari situ gue berpikir, betapa pinternya Reyhan sampai-sampai bertegur-sapa dengan orang yang dikaguminya pun tidak bisa. Dan tanpa gue sadari, kepintaran yang dilakukan Reyhan, sama seperti kebodohan gue selama ini yang ga pernah bisa memberanikan diri buat nyapa orang yang gue kagumi. Jangankan menyapanya, memandangnya pun gue takut. Dan apa yang gue dan Reyhan alami, dialami juga oleh Pengagum Rahasia. (continue)

Melihatmu dalam Senja

train

Malam ini terasa lebih dingin dari malam-malam seperti biasanya. Rintikan hujan terdengar  lebih merdu. Entah sejak kapan hujan latihan olah vocal hingga suaranya terdengar merdu, yang jelas aku sih yes.

 

Kamar begitu gelap. Lampu kamar sudah mati sejak 30 menit lalu. Tidak ada cahaya sama sekali di kamar, kecuali cahaya dari layar hanpdhone. Sesekali layar itu redup, tapi semangat scrolling di jam 2 pagi membuat cahaya dari layar handphone itu bertahan lama.

 

Entah untuk keberapa kalinya, malam ini gue melihat lagi masa lalu dari sepotong foto-foto yang tersimpan. Kadang membuat bibir tersenyum tipis seperti keadaan dompet di akhir bulan, kadang juga merenung dan larut dalam heningnya malam. Namun gue yakin, apa yang gue lakukan malam ini, pernah dilakukan juga oleh kalian.

 

Bro, di mana? Like sm komen ig gue dong biar rame..

P

P

P

Chat Danil membangunkan gue dari ketiduran di pagi hari tadi. Gue ga bales. Benerin bantal. Tarik selimut. Lanjut tidur lagi dan berharap bisa melanjutkan mimpi yang telah lama gue inginkan.

 

Udah lama gue menginginkan mimpi ini. Mimpi yang bisa membuat gue sedikit melepas kerinduan. Karena cuma ada satu cara untuk bisa bertemu dan melihatnya kembali, yaitu hanya lewat mimpi.

 

Kalau aja mimpi bisa selalu seperti apa yang kita inginkan, mungkin gue akan selalu meminta untuk bermimpi yang sama seperti malam kemarin. Sayang, kenyataannya enggak seperti itu, gue lebih banyak mimpi mati lampu. Gelap. Tiba-tiba udah kebangun aja gara-gara nyokap teriak pake suara 2 buat nyuruh solat.

 

Sore ini gue ketemu sama tim basket di daerah Depok, dan ada Danil yang minta di-like dan dikomen IG-nya pagi tadi.

“Lu ke sini naek apaan?”, Danil nanya gue seakan ingin membahas kenapa gue ga bales chat dia.

“Gue ngantuk, makanya gue ga bales. Lagian lu ganggu aja orang lagi mimpi enak.” saut gue biar ga panjang urusan.

“LU MIMPI BA—“

 

“KERINGGGG!”, potong gue menyambar.

 

“—sah..”

Daniel otaknya emang ngeres, makanya kalo ngomong sama dia harus hati-hati biar aman. Kalo perlu ngmongnya sambil pake helm.

 

Kumpul sama tim basket pun selesai, gue memilih untuk pulang ke rumah naik kereta. Karena gue lebih suka jalan kaki, gue menolak ajakan pelatih gue yang ngajak bareng ke stasiun kereta naik mobil. Entah kenapa, langkah kaki di senja ini begitu nyaman dan selalu ingin terus berjalan tanpa berhenti.

 

Semakin dekat dengan stasiun kereta, semakin terlintas di kepala tentang mimpi gue bertemu dengannya malam tadi. Hal itu membuat langkah gue semakin pendek dan menjadi lebih pelan. Langkah kaki terus maju ke depan dan pandangan mata selalu lurus tanpa sedikit pun melirik kanan atau pun kiri, hingga akhirnya gue melihat wajah yang sudah lama ga gue liat.

see

Seakan waktu berhenti sejenak, senja di depan stasiun  kereta itu menjadi saksi bisu bertemunya kembali gue dengannya. Dengan dia yang pernah mewarnai hari-hari gue dengan tawa, bahkan tangis. Tak ada kata sedikit pun yang keluar, karena pandangan mata gue terus memandang lurus ke depan. Walau pun rasa rindu selalu memaksa gue untuk berpaling ke belakang melihatnya.

 

Ga sedikit pun gue ingin menyerah untuk melihatnya yang sudah ada di belakang gue, tapi setidaknya gue melirik sedikit dengan kepala tetap memandang ke depan, dia menolehkan kepalanya dan melihat kehadiran gue yang saat itu menggunakan topi di keramaian orang berlalu-lalang.

 

Wajah itu tidak berubah sedikit pun, sama sekali tidak ada. Mungkin yang berubah hanyalah keadaan dan waktu yang membuat kami berada di situasi yang berbeda.

 

Suara informasi keberangkatan kereta yang begitu nyaring perlahan menjadi samar. Tiang besar di samping tempat duduk gue pakai untuk bersandar. Terlintas di pikiran tentang semua kejadian di hari ini.

 

Ada 3 hal yang gue sadari hari ini. Pertama,  mimpi yang selama ini gue impikan menjadi mimpi di dunia nyata. Gue bertemu dengannya meskipun hanya papasan di perjalanan menuju pulang.

 

Kedua, menolak ajakan pelatih untuk pulang bareng naik mobil menjadi keputusan yang tepat buat gue. Karena bisa jadi gue sampai stasiun lebih awal jika menerima tawaran itu, dan menghilangkan kesempatan melihat wajah yang lama tidak bisa gue liat secara langsung.

 

Dan ketiga,  chat Danil menyadarkan gue supaya gue tidak terlalu larut dalam mimpi, karena mimpi bisa jadi kenyataan dengan keinginan dan usaha yang sebanding. Jangan pernah takut untuk bermimpi, dan untuk menjadikannya kenyataan langkah pertama adalah bangun.

 

Gue yakin, semua yang terjadi di dunia ini punya arti yang akan kita sadari di kemudian hari.

Sering-Sering Nebeng biar Move On

IMG_9329

Hal yang paling sulit untuk dilakukan menurut gue adalah move on. Kadang makna susah move on itu terkesan berlebihan, tapi begitulah faktanya. Banyak orang yg terjebak, sulit untuk bergerak, dan ga tau bagaimana caranya move on. Padahal move on itu gampang, jangan punya mantan.

giphy1

Menurut gue orang yang belum move on itu adalah salah satu penyebab terjadinya sebuah permasalahan. Apa permasalahannya? Permasalahan yg selalu kita temui di beberapa titik jalanan di Indonesia. Permasalahannya adalah kemacetan. 

Kenapa gue bisa bilang orang yang belum move on bikin masalah kemacetan? Karena mereka belom bisa move on ke hal baru. Mereka masih pakai kendaraan pribadi ke mana-mana. Segitu masih kredit, gimana beli cash coba. Jadinya lu tau kan, kendaraan semakin banyak di jalanan. Otomatis ruas jalan menyempit dan pastinya menimbulkan kemacetan.

Gue adalah salah satu orang yang belum move on. Menurut gue lo baru bisa move on kalo ada yg baru yg lebih baik sebagai penggantinya. Beruntungnya gue, sekarang gue udah bisa move on dari pakai kendaraan pribadi karena kehadiran GrabHitch. Kenapa? Karena daripada gue kemana-mana pake kendaraan pribadi, lebih baik gue nebeng pakai GrabHitch. 

2017-04-26-PHOTO-00000181

Kemarin pas gue lagi males-malesnya naek motor sendiri, gue akhirnya nyobain GrabHitch. Jangankan tinggal duduk manis di jok belakang, di suruh bawa sama abangnya aja gue mau. Saking nyamannya, Tjuy!

Karena GrabHitch ini driver-nya ya kayak temen sendiri gitu. Bisa diajak ngobrol bahkan gue sempet mampir di sebuah warung kopi buat cerita-cerita. Seru banget tjuy!

IMG_9333

Berita ini gue share kan ke group kelas. Biasaaa.. Gue share hal baik ke group kelas biar kalo minta di-tipsen-in gampang. Hehe. Nah, banyak cewek-cewek yang pengen coba. Tenang! Ini aman banget. Buat cewek lo bisa pesen sesuai gender. Jadi, driver-nya cewek. Lebih asik kan tuh buat saling puji kecantikan di sepanjang jalan.

giphy (10)

Pengalaman ini bikin gue semakin nyaman pakai GrabHitch karena bisa booking dari 7 hari sebelumnya hingga 30 menit sebelumnya. Udah gitu enaknya nebeng GrabHitch itu ketika gue bisa ngobrol-ngobrol asik bareng driver-nya di saat gue emang lagi ga buru-buru.

Jadi, kapan lo move on ke grabhitch? Perubahan di mulai dari diri sendiri, dan gue move on ke grabhitch. Gue tunggu lo join bareng. So, kalian bisa join di sini https://bit.ly/GrabHitchID

Sepertinya Begitu

lol

“WOY! Tiga lawan tiga, yok?” teriak bocah SMA berperawakan tinggi, putih, bersih, belum ternoda sambil melangkah maju ke arah gue dan dua temen gue, Adi dan  Iqbal. Ya, hari ini  gue lagi ke salah satu SMA di Bogor buat sosialisasi kampus.

“Ayo! Berani ngga?” desakan bocah SMA tadi dengan nada tinggi berbau songong seakan gue harus meng-“iya”-kan. Sebenernya gue pengen bilang “YAUDAH, SINI LO KALO BERANI!”. Tapi mereka udah di depan mata gue duluan. TUHAN, KENAPA HIDUP SEBEGITU TIDAK ADIL.

Tantangan bocah SMA songong tadi pun gue terima, game pun dimulai. Gue nggak pernah takut setiap nerima tantangan apa pun, bahkan bisa dibilang gue suka akan tantangan. Kayak kemaren, gue seharian nebak bu-ibuk naek motor matic mau belok ke mana. Susah tjuy! Jangankan kita, dia aja bahkan nggak bisa nebak dirinya sendiri.

“NDENNN OPER SINI GUE KOSONG!!!” teriak Adi di pojok minta buat nembak 3 points. Gue selalu percaya kalo Adi minta dioper buat 3 points, tanpa pikir panjang gue kirim langsung bolanya ke dia. Malahan kalo perlu gue kirimnya pake JNE.

Gue juga nggak mau kalah sama Adi buat 3 points. Adi nembak lima kali, gue juga lima kali. Bedanya, Adi dari lima masuk empat, kalo gue nggak ada yang masuk. Tapi itu nggak penting, yang jelas gue dan tim menang lawan bocah SMA songong yang keringetnya bau LJK.

“Di, jago juga luh!” sanjungan gue buat Adi. Sebenernya gue bilang kayak gitu biar dia nyanjung balik, eh nggak. Rasanya pengen gue sleding palanya dari belakang.

Gue gatau kenapa setiap nembak ga masuk-masuk, beda kayak Adi yang hampir selalu masuk. Apa mungkin nyokapnya Adi ngidam niupin bola basket semasa hamil, atau mungkin sebelom nembak, Adi PDKT-an dulu? Gue nggak tau.

Seandainya main basket harus PDKT-an dulu sebelum nembak, gue nggak akan pernah bisa point dari nembak. Kayaknya gue harus belajar sama Adi. Bukan belajar nembak, tapi gue mau belajar PDKT. Karena sepertinya, gue telah menemukan wanita yang tepat.

Tips Buat Lo Yang Ga Suka Baca

Yakin Masih Ga Suka Baca?

Semua orang di dunia ini bisa baca, bedanya ada yang males dan ada yang tunanetra. Terserah lo mau masuk ke kategori yang mana, yang jelas dengan banyak baca lo bisa dapet pengetahuan yang luas.

giphy (7)

Banyak orang yang suka baca novel karya idolanya, tapi pas dikasih buku pelajaran langsung pura-pura tunanetra. Aakhirnya buka tempat pijet dadakan di pojokan kelas yang isinya sapu, lap pel, ember, plus tipe-x yang ga diketahui pemiliknya.

 

Sooooo, ubah pola pikir lo tentang membaca! Jangan cuman mantan lo doang, rasa males buat baca juga harus lo buang jauh-jauh. Yaaa, kalo mantan boleh lah jangan jauh-jauh, kan kalo kangen bisa lo pungut lagi.

 

Lanjut!

 

Kalo lo masih males buat mulai membaca, lo bisa mulai pelan-pelan dengan cara yang sederhana. Banyak metode-metode buat ngebiasain diri untuk membaca.

  1. Baca buku

Hal yang harus lo lakuin biar suka baca itu sederhana, lo bacanya jangan pake beban. Jadi, baca aja terus sampe bukunya abis. Jangan setiap kalimat di buku itu lo apalin kek mo ulangan sejarah.

giphy (8)

  1. Baca doa

Kalo lo lagi kena masalah apalagi sama guru killer, pasti diem-diem lo baca doa. Lo dimarahin gara-gara ga ngumpulin tugas, terus lo ga tau mau ngasih alesan apa, ujung-ujungnya lo cuma bisa doa doang. Walaupun yang lo baca itu doa makan, setidaknya lo udah latian membaca. Gut job brader!

giphy (9)

 

  1. Baca situasi

Ini yang jarang orang bisa lakuin, sebelom lo mulai untuk suka membaca, lo harus biasain diri dengan baca situasi. Ketika perut lo kembung dan bawaannya pengen kentut melulu, lo harus bisa baca situasi dengan tepat. Bersikaplah sewajarnya. Jalan pelan-pelan ke belakang kelas. Batuklah sekenceng-kencengnya seakan lo lagi batuk berdahak, di saat itu pula lo lepas dan ikhlasin tuh kentut. Dijamin semua aman terkendali.

giphy (10)

Pokoknya, lo bisa dapet manfaat banyak buat hidup dan mati lo kalo banyak membaca. Emang lo mau pas di alam kubur nanti ga bisa jawab pertanyaan-pertanyaan dari malaikat? Hey men! Malaikat ga ngebolehin lo open book!

 

 

 

Kata Siapa Cuma Drama, Korea Juga Punya Ini.

Korea bukan hanya sebatas drama, boyband, atau girlband aja. Banyak hal menarik yang mungkin tidak kita ketahui. Gue aja baru tau kalo Korea itu sebuah negara, sebelumnya gue mengira itu adalah pupuk, tapi akhirnya gue sadar kalo Korea dan UREA itu dua hal yang berbeda.

Ngomongin masalah perbedaan, Korea punya hal-hal unik yang berbeda dengan negara lain terutama sama masyarakatnya, Guys. Kalo gue bandingin berdasarkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia sesuai sila ke-5, kebiasaan masyarakat Korea sangat berbanding terbalik dengan masyarakat Indonesia.

Bawng-Putih

Pertama, orang Korea sangat suka makan bawang putih. Sedangkan kebanyakan orang Indonesia terutama cewek sangat menghindari bawang putih dengan alasan takut bau badan. Padahal kalo bau mah bau aja, jangan bawa-bawa bawang. Apalagi bawa-bawa polisi, beresin secara kekeluargaan aja, Guys. Nah, orang Korea sendiri menganggap bawang putih sebagai penetral darah. Wuiiih… biasa aja.

Lanjuuuttt!

Kedua, orang Korea jarang makan pake tangan karena menganggap makan menggunakan tangan sangat tidak sopan. HELLOWWW! Udah bener pake tangan, yang ga sopan tuh makan pake kaki. Kakinya minjem punya temen lagi. Ini kan berabe kalo bokap gue ke sana, biasalah keturunan USA (Urang Sunda Asli), kalo makan harus pake tangan. Hukumnya wajib bila mampu. Jangankan makan nasi, makan bubur aja pake tangan.

untitled

Ketiga, ngomongin masalah narsis-narsisan, Indonesia udah ga perlu ditanya lagi. Apalagi Korea, dengan muka orientalnya sangat memicu terjadinya selfie. Bedanya, orang Korea lebih suka teriak “kimchi” ketimbang “cheese” saat di foto.  Kimci itu sendiri adalah makanan khasnya. Coba kalo di Indonesia, waktu itu gue disuruh fotoin orang, eh mereka teriaknya “kimchil”. Nah, kimchil itu sendiri adalah makannan khasnya.

snsd-diet

Itu dia!

Sekarang kalian mulai tau kan kalo di Korea buka cuma drama, boyband, atau girlband doang. Perlu diingat, yang terpenting adalah Korea bukan pupuk. Bagaimana pun Korea punya budayanya sendiri, sama seperti kamu, punya budaya ditinggal tanpa alasan terus.

Aku Menunggu

Saat gue kelas 6 SD, gue adalah orang yang (sok) paling ngerti tentang cinta di antara 2 sahabat gue, Reyhan dan Prama. Reyhan orangnya pinter, dan Prama salah satu orang yang paling kaya di antara kami. Mereka berdua sama-sama rendah hati. Sedangkan gue paling bodoh, bego, keras kepala, sombong pula. Mungkin sewaktu gue dalem kandungan, yang ngidam bukan nyokap, tapi tetangga gue.il_570xN.204643110

Kita bertiga selalu ngobrolin cewek, hampir semua cewek di sekolah  dijadikan topik pembicaraan termasuk kepala sekolah. Kebetulan kepala sekolah kita cewek. Dan gue nyaris suka sama beliau. Untung Reyhan menyadarkan gue kalo beliau udah punya suami.

Walaupun gue ngerasa (sok) paling ngerti tentang cinta di hadapan temen-temen gue, dan sering kali mereka nyamperin gue buat nanyain solusi gimana caranya dapetin cewek, namun, sebenernya hati kecil gue menolak. Gue ga tau cinta itu seperti apa, gue ga tau harus bagaimana dengan cinta, dan bahkan gue ga tau bagaimana cinta itu datang.

Di jam istirahat, ketika gue lagi duduk-duduk sambil ngupil di depan pintu kelas, dari kejauhan gue melihat Reyhan lari ke arah gue dengan kecepatan tinggi. Kedua tangannya lurus ke belakang layaknya para ninja di film Naruto, dan agak sedikit nyengir. Gue sempet mengira dia mau ikutan duduk-duduk sambil ngupil. Tapi ga mungkin orang sepinter dia bertindak dongo kayak gue.

Reyhan memang pinter, tapi dia ga sepinter seperti apa yang gue kira dalam urusan percintaan. Dia mendadak dongo ketika dia lagi jatuh cinta. Dan bahkan dia sampe lupa caranya bertegur sapa ketika dia papasan sama Ries, cewek yang dia suka.

“Kenapa ya, Den..” Reyhan memberikan pertanyaan sambil menggenggam tangannya sendiri. “Gue ga pernah berani nyapa Ries tiap kali papasan sama dia.”

“Menurut lu kenapa?” Gue membalikan pertanyaan yang Reyhan berikan.

“Kalo gue tau, gue ga bakalan nanya lo, Kuya!”

“Ya terus?”

“Udah lah, besok gue bakal nyapa Ries duluan.” Reyhan memberikan janji buat gue, dan sebenernya ini bukan janji yang pertama kalinya Reyhan kasih. Mungkin malaikat juga udah males nyatet tiap Reyhan ngucapin janji.NHSHD14

Padahal, gue tau banget Reyhan, dia ga pernah ingkar janji. Dia selalu menepati omongan yang telah dia ucapkan.          Tapi semua berubah ketika Reyhan bertemu dengan Ries. Reyhan mulai sering melupakan janji-janjinya yang sudah terlanjur gue dengar.

Dari situ gue berpikir, betapa pinternya Reyhan sampai-sampai bertegur-sapa dengan orang yang ditaksirnya pun tidak bisa. Dan tanpa gue sadari, kepintaran yang dilakukan Reyhan, sama seperti kebodohan gue selama ini yang selalu menyayangi dan menyimpannya dalam hati, seorang mahasiswa Teknik.

Sewaktu dia masih dalam proses transisi untuk menjadi mahasiswa Teknik, gue selalu ada di sampingnya. Bukan karena permintaannya, tapi karena gue yang ga pernah mau kehilangan sedetik pun waktu bersamanya selagi gue masih ada di kota yang sama, karena gue tau akan tiba waktunya gue terpisahkan oleh jarak dengannya sebab gue harus kuliah di Bandung sedangkan dia di Depok.

Hari-hari selalu kita habisin berdua, entah itu makan, duduk sambil ngobrolin hal yang sebenernya ga penting tapi ketidakpentingan itu lah yang membuat kita ketawa sepanjang obrolan, dan yang paling standar kita jalan ke mall. Tapi gue sebel tiap jalan ke mall sama dia orang-orang selalu menatap sinis gue seakan mereka ngomong “opis boy mall bisa juga punya cewek secantik itu” di dalem hatinya.

Gue pamit buat pulang setelah jalan sama dia karena dia butuh istirahat buat besok pergi ke kampusnya ngejalanin rangkaian mahasiswa baru, tapi niat pulang itu gue kubur dalem-dalem saat dia lupa belum buat tugas yang harus dibawa besok. Dia harus bikin logbook atau kayak kumpulan kertas-kertas ukuran A5 sebanyak 100 lembar dan dijilid spiral. Gampang. Tapi masalahnya, tempat fotokopian mana yang buka jm 12 malem dan keadaannya gerimis.emotional-freedom-photography-rain-water-Favim.com-118327

Gue pun langsung nemenin dia mencari tempat fotokopian, memang rezeki anak soleh yang sering solat, solat Jumat doang, gue pun menemukan tempat fotokopian yang buka. Tapi sayang, di tempat itu ga bisa jilid spiral. Gue kesel, sampe sempet kepikiran buat ngejilid spiral muka abang-abangnya. Sedangkan hujan semakin deres, dan gue berteduh di pinggir-pinggir kios yang melindungi kita. Di situ gue ngerasa kalo bahagia itu ga mahal, cukup berdiri di kios lusuh sambil menunggu hujan reda pun gue bisa bahagia bersamanya.

Hujan reda, kita langsung ganas lagi buat nyari tempat fotokopian. Akhirnya di tengah kota Bogor yang lembab karena hujan kita pun menemukan tempat fotokopian besar, dan logbook pun selesai. Dan keesokan harinya, gue nganterin dia ke kampusnya naik kereta. Saking sayangnya gue sama dia, sebelom berangkat masinisnya gue suruh pelan-pelan bawa keretanya.

Semua yang gue lakuin ke dia ngalir gitu aja seperti air, gue ga pernah merencanakan apa pun buat bikin dia seneng. Karena gue yakin kalo kebahagiaan yang kita lalui berdua ga perlu rencana atau pun wacana, tapi yang dibutuhin adalah kebersamaan. Saat bersama, semua akan berlalu seakan direncanakan.waiting-for-someone-desktop-wallpaper-6357

Moment itu yang saat ini gue rindukan, yang selalu ingin gue ulang. Saat ini gue ga bisa lagi ada di sampingnya setiap waktu dan setiap dia butuh karena gue jauh. Gue selalu ingin mempertahankan hubungan ini, tapi begitu egoisnya gue kalau harus memaksakan keadaan. Karena gue tahu betul siapa, bagaimana, dan seperti apa dia itu, orang yang selalu gue simpen di dalem lubuk hati gue. Gue tau banget dia butuh orang yang selalu ada di sampingnya, gue tahu dia butuh orang yang ada saat dia butuh, gue pun tahu dia butuh orang yang menemani hari-harinya, sedangkan saaat ini situasi dan keadaan yang memisahkan kita. Gue ga bisa keras kepala buat maksain dia tetep ada di samping gue, karena itu bikin dia sakit dan tersiksa sama perasaannya. Di sini gue Cuma bisa ngeliat kebahagiaannya yang baru, yang selalu jadi penyemangat di setiap hari-harinya. Dan kebodohan gue yang menyayangi dia bukan lah kebodohan dalam arti yang sesungguhnya, tapi menyayanginya adalah anugerah yang paling indah. Walaupun raga ini tidak lagi dekat dengannya karena jarak, tapi hati gue untuknya selalu ada di dekatnya sedekat urat nadi. Buat kamu di sana, aku tidak terlalu yakin apakah kamu akan kembali untukku, tapi aku selalu yakin untuk tetap berada di sini menantimu untuk kembali.

Timing yang Tepat

Setiap kali bermain basket, gue bisa berlari dengan sangat cepat tanpa merasa capek, dan sekali pun capek, rasa capek itu hilang ketika gue sudah mandapatkan bola dari musuh dan berhasil mencetak point. Tapi sayangnya, kecepatan dan stamina gue dalam bermain basket tidak berlaku di kehidupan percintaan gue.

New-York-City-Basketball-Court_www.FullHDWpp.com_

Di tim basket SMA, gue lah pemain yang tercepat dan memiliki stamina lebih dibanding pemain-pemain lain. Gue juga satu-satunya pemain yang ga punya cewek di tim basket putra. Sampe akhirnya gue hampir bergabung dengan tim basket putri, biar sama-sama ga ada yang punya cewek.

Sering kali gue mencoba melakukan pendekatan dengan sangat hati-hati ke setiap cewek yang gue incer, gue takut salah jalan dalam melakukan pendekatan. Pertanyaan-pertanyaan yang membuka obrolan di chat sudah gue luncurkan, mulai dari “Lagi apa?” sampe nanya “Menurut anda, apa yang menyebabkan Timor Timur memisahkan diri dari Indonesia? Jabarkan dan jelaskan!”  semua udah gue tanyain.  Sampe akhirnya gue ngajak ketemuan dengan maksud buat nembak dia, tapi yang bales malah cowoknya. Mati! Lagi-lagi gue kalah cepat.

Selama ini, setiap gue memenangkan pertandingan basket, rasanya hambar. Ga ada yang memberikan senyuman bangga di akhir pertandingan, kecuali orangtua gue. Itu juga kalo orangtua gue nonton. Gue kepingin seperti temen-temen gue yang lain, di akhir pertandingan selalu dimanjain dan dielapin pake handuk kecil. Sedangkan gue, gue hanya bisa ngelapin badan gue sendiri pake kanebo kering dan termangu melihat kebahagian temen-temen gue karena kasih sayang pacarnya.

Gue terus berlari dengan cepat agar bisa mengejar seorang wanita yang nantinya bisa merasakan kebahagiaan gue, dan ngelapin keringet gue di akhir pertandingan pake kanebo kering. Hal seperti itu selalu gue lamunkan di sela-sela waktu luang. Gue membayangkan ada yang tersenyum sambil loncat-loncat ketika gue mencetak point, berharap-harap cemas ketika gue terjatuh, menangis sedih sambil mengajak penonton lain tahlilan ketika gue dikalahkan tim lawan. Hal seperti itu yang selalu gue harapkan. Tapi gue ga pernah tau kapan hal itu akan terjadi kepada gue.

Gue menemukan seorang wanita  di contact BBM temen, tanpa pikir panjang, karena tiap kali gue pikir panjang  gue langsung stres dan lari ke luar rumah buat ngemutin encu di got-got depan rumah, akhirnya gue chat dia. Gue ga mau kecolongan lagi, gue mau gerak cepet buat dapetin dia.

“Hai, lagi apaaa? Besok ketemuan yuk? Gue tunggu di cafe samping GOR jam 4 sore ya.” gue langsung ngajak dia ketemuan lewat chat. Dan rencananya gue bakal langsung nembak dia.

“…”

Ga ada balesan dari dia sejak 3 jam setelah gue chat dia, bahkan sampe acara D’Academy udahan pun belum ada chat masuk dari dia di handphone pintar gue. Gue hanya ingin bergerak cepat buat dapetin cewek, tapi sayangnya kecepatan yang gue lakuin pun salah juga. Yang gue dapet hanyalah kebingungan yang luar biasa menempel di kepala  gue. Mungkin pendekatan yang gue lakuin ke cewek ini adalah kerja keras gue yang terakhir kalinya untuk mendapatkan pacar.

Hari ini gue bermain di tim PORDA Kota Bogor, dan pemain-pemain yang main bersama gue pun bukan lagi anak SMA seperti temen-temen tim basket SMA gue. Mereka sudah kuliah dan rata-rata ada di semester 3. Saat pertandingan dimulai, gue sangat percaya diri bisa mengalahkan mereka karena gue yakin dengan kecepatan dan stamina yang gue miliki. Sampe akhirnya gue kalah dan tersadar kalo kecepatan saja ga cukup buat main di level PORDA, gue harus tau timing. Gue harus tau kapan bermain cepat, dan kapan bermain lambat.

Seusai pertandingan gue dapet pelajaran, semakin tinggi level bermain bola basket, yang kita butuhkan bukanlah kecepatan lagi. Tapi timing yang pas. Seketika gue tersadar kenapa gue selalu kalah dalam kehidupan percintaan gue buat dapetin cewek, gue terlalu mengandalkan kecepatan yang gue punya. Padahal, yang dibutuhkan adalah timing yang tepat.

Timing yang tepat bukan berarti menunggu waktu yang lama untuk melakukan pendekatan, tapi seberapa nyaman kah kita saat berada di sampingnya. Meski pun baru sehari menghabiskan waktu bersama, dan sama-sama merasa nyaman, itu lah timing yang tepat.

Masa-Masa di SMA yang Telah Menjadi Sebuah Cerita

Tiada kisah paling indah selain masa-masa di SMA, sampai pada akhirnya tersadar masa-masa indah itu hampir selesai.

SchoolchildrenInUniform_ZH-CN8032531373_1366x768

Banyak kenangan yang udah dilewatin bareng temen-temen, mulai dari ga ngerjain PR sekelas, izin ke toilet padahal ke kantin,  sampe kantin malah jajan sebelom waktunya. Udah gitu ga bayar lagih. Apa pun itu, gue mau ngingetin kalian beberapa kenangan di masa SMA yang mungkin sama seperti kenangan yang gue alamin.

  1. The Power of Ngangkatin Bangku ke Atas Meja

Education-KY- school classroom desks student- Oct. 27, 2011-1

Setiap bel pulang sampe ke telinga gue, hal yang selalu gue tanyain dalam pikiran adalah, “hari ini gue piket ga ya?”. Belom beres menjawab pertanyaan dari diri sendiri, tiba-tiba gue denger suara ketua kelas teriak nyebut nama gue. Mati! Mau ga mau gue harus piket, karena mau kabur pun kerah baju gue udah dipegangin sama seksi keamanan kelas.

Hari itu sampah lagi banyak-banyaknya, buat menyelesaikan pekerjaan yang paling dibenci para pelajar ini kemungkinan memakan waktu 30 menit. Sedangkan dari jendela kelas, gue ngeliat  temen gue udah nunggu dan ngasih kode ngedipin mata sambil naekin alis, gue kaget alisnya naek 5 meter.

Pekerjaan gue pun dimulai. Sementara cewek-cewek pada nyapu, gue langsung gerak cepet ngankatin bangku ke atas meja. Kadang pas gue lagi ngangkatin bangku ke atas meja, ada aja orang yang ngalang-ngalangin lalu-lalang di deket bangku yang mau gue angkat. Tanpa pikir panjang, gue langsung angkat bangku sama orang-orangnya ke atas meja.

  1. Ngerjain PR Pagi-Pagi di Sekolah

large

Namanya juga sekolah, apalagi guru SMA, kalo ngasih tugas udah kayak ngasih amanat ke anaknya yang minta doa restu buat merantau. Banyak banget!

Hari itu gue sengaja bangun pagi-pagi, ya kira-kira sekolah gue belom dibangun gue tuh udah bangun duluan. Gitu loh. Sampe sekolah, gue kalang kabut minjem buku catetan temen buat nyalin tugas.  Tanpa pikir panjang gue langsung nyalin dengan cepat tugas dari guru yang ngajar hari itu. Tugas pun berhasil gue selesaikan sebelum bel masuk terdengar oleh kuping.

Perasaan gue tenang karena tugas udah beres, namun seketika gue panas-dingin disertai batuk berdahak setelah ngeliat guru Bahasa Inggris yang masuk ke kelas. Gimana ga shock, tugas yang gue kerjain tugas Pendidikan Agama Islam. Tamatlah riwayat gue.

Di situ gue ga bisa mikir mau ngasih alesan apa lagi, yang gue pikirin cuma satu. “Bu, ini saya ngerjain tugas Bahasa Inggrisnya pake bahasa Arab. Keren kan?” kata gue dalem hati.

  1. Guru Killer

1305675722-room-class-school-classroom-teacher-blackboard-college-wallpaper-wallpaper 

Sering kali kita ngerasa bete saat dengerin guru ngomong di depan kelas, apalagi kalo guru yang ngajar adalah guru yang ditakutin sama semua murid. Gue yakin di sekolah kalian juga pasti ada guru killer kayak di sekolah gue, bedanya, guru killer di sekolah gue lebih nyeremin dibanding malem 1 Suro. Dia ngajar di kelas gue,murid  kelas lain aja ikutan ngerti.

Saat pelajarannya berlangsung murid ga ada yang berani ngobrol, semua murid mengikuti pelajaran dengan baik. Keliatannya. Jangankan ngobrol, buat nyatet apa yang dia omongin aja suara gesekan antara pensil dan buku kedengeran. Bahkan pas ada bahasan yang gue ga ngeri pun, gue ga berani nanya. Mungkin pas di alam kubur nanti, malaikat juga ga berani nanya dia.

Dulu gue selalu beranggapan ke guru killer tersebut kalo dia ngajar ga pake hati, bahkan gue sempet membencinya dan males-malesan tiap ada pelajarannya. Dia selalu ngomong blak-blakan dan keras, sampe rasa sakit hati yang gue rasain ga ke itung lagi. Tapi saat gue udah meninggalkan gerbang sekolah, omongan lembut beliau kepada gua malah lebih menyakitkan. Gue baru tersadar kalo apa yang beliau lakuin selama ini tujuannya baik banget, beliau cuma mau anak-anak didiknya sukses.

  1. Izin ke Toilet

 1

Gunanya toilet di sekolah bukan buat buang air kecil atau buang air besar lagi, bagi kita, toilet adalah satu alasan buat jajan ke kantin. Setiap ada yang izin ke toilet, pasti selalu ada yang nyeletuk nitip makanan. Kayak waktu itu gue pernah izin ke guru, “Bu, izin ke toilet ya..”, kemudian temen-temen teriak macem-macem ke gue. Mulai dari “Nitip Den, satu!” sampe ke “Den nitip! Ibu-ibu kantinnya bawa ke marih!”

Pas sampe di kantin, gue beli ciki-cikian dan minuman botol. Tapi pas gue mau bayar, ibu kantinnya ga ada. Gue langsung nanya ke ibu kantin sebelahnya.

“Bu, ini saya mau bayar. Ibu kantin yang ini ke mana ya?”

“Oh, dia lagi ngajar di kelas kamu.”

Mati gue! Ternyata dia guru yang ngajar di kelas gue.

Seperti itu lah beberapa cerita kecil yang pernah gue alamin di SMA, ga salah jika orang bilang SMA adalah masa paling indah. Mungkin apa yang gue alamin di masa-masa SMA pernah kalian alamin juga. Sekarang masa-masa itu tinggal jadi cerita yang manis, dan ga akan pernah bisa terulang lagi.

Di mana ada gerbang masuk, di situ juga ada gerbang keluar. Saat kita sudah memasuki gerbang masuk, saat itu juga kita harus siap untuk berjalan perlahan ke gerbang keluar.

Kalo cerita kalian apa, Guys?